Tuesday, 3 December 2013

society - eddie vedder




It's a mystery to me
We have a greed with which we have agreed
And you think you have to want more than you need
Until you have it all, you won't be free

Society, you're a crazy breed
I hope you're not lonely without me

When you want more than you have, you think you need
And when you think more than you want, your thoughts begin to bleed
I think I need to find a bigger place
Cause when you have more than you think, you need more space

Society, you're a crazy breed
I hope you're not lonely without me
Society, crazy indeed
Hope you're not lonely without me

There's those thinking more or less, less is more
But if less is more, how you keepin score?
Means for every point you make your level drops
Kinda like you're startin' from the top
And you can't do that

Society, you're a crazy breed
I hope you're not lonely without me
Society, crazy indeed
I hope you're not lonely without me 
Society, have mercy on me
I hope you're not angry if I disagree
Society, you're crazy indeed
I hope you're not lonely without me

an inspirational original soundtrack I love the most, from Into the Wild the movie 

Thursday, 17 October 2013

Giliran Menyambangi Laut

Saya bukan orang yang ahli menceritakan dengan detail kejadian yang saya alami. Termasuk menuliskan catatan perjalanan ini. Yang saya bagi adalah hal-hal yang tidak penting bagi orang lain,, tapi sangat penting bagi saya. Hehe.

Setelah mendaki 5800 mdpl di Kilimanjaro, kemudian arung jeram di sungau arus deras, kini giliran laut menjadi titik konsentrasi saya. Orang lain menganggap bervakansi adalah ke tepi pantai, begitupun saya. Bukan sekedar vakansi dan refreshing, tapi menyeimbangkan badan. Supaya diri ini tidak hanya kenal bau gunung, sungai, tapi lengkap juga pulang ke laut. Bukankah begitu alur hidup sang air?

Saya....tidak bisa berhenti untuk percaya bahwa laut benar-benar simbol wanita. Kenapa begitu? karena pada kenyataannya laut adalah tempat pulang air dari gunung yang asalnya dari evaporasi laut juga kan? inilah makna vakansi bagi saya. Sebut saja saya naturalis. Karena saya melibatkan perasaan tertentu untuk mengartikan itu semua. Pantai, wanita, rumah, pulang.

Yang terbaru ini adalah satu dari sekian gugusan pulau di utara Pulau Jawa. Tidak sendirian, dikawal pulau yang lain, tapi dia spesial dengan sendirinya karena kami melibatkan perasaan kami dalam menempatkan pulau tersebut. Sambangan, Karimunjawa.

Menyelam yang terdalam 16 meter, menikmati simbol prestise kaum borju, Kerapu. Dahsyatnya adalah, lagi-lagi perjalanan laut ini hampir gratis. Kami datang bermodalkan suka-suka. Kerja keras lobi suatu perusahaan, jualan baju bekas, pokoknya jual diri beserta otak yanfGdipunya.

Inilah vakansi, tidak sekedar meliburkan diri, tapi juga merutinitaskan pada hal-hal yang menyenangkan. Kelak ini menjadi semangat kami untuk terus menuju ke dalam, lebih dalam lagi.

A bintang 1 terjalani, sabar menanti dan menabung untuk bintang 2 :)














Thursday, 24 January 2013

28 Oktober yang lalu, Tanzania, Afrika!


Pada butiran pasirnya saya menjadi peduli
Independensi adalah segalanya hidup
Kata orang mereka benua hitam
Bagiku jauh beda dengan hidup di tengah kemapanan
Mereka seperti Neandertal, seperti Cro Magnon
Bahwa setiap manusia beda, spesies entah tak lagi makna

Di kaki Kilimanjaro, tebing es abadi yang dikonon-kononkan menjulang
Masih ragu mapan di khatulistiwa?
Ada yang adil, Tuhan
Bahkan mereka tahu, dijajah pun ada makna

Manusia, 
Hitam dan Putih adalah soal pencapaian satorimu, kapan?
Dalam kelabu kita yang setiap hari, kita tidak lebih entah dari butiran debu, kumpulan kerikil.
Bukan salju abadi yang dikonon-kononkan yang melapis Sahara

Kita bahkan bukan medusa, kebebasan masih utopia
Jangan sombong karena kita hanyalah polip yang menempel di sekerat tanah bernama bumi
untuk kerat tanah hitam Afrika...
langit cerah akan selalu menggantung di tempatmu




1 sendok seribu pekat, matamu bisa bertahan terjaga sepanjang malam




apalah bentuknya, spring rolls. 

Kita selalu mencari, atas nama kebiasaan. Nasi.

Saya pikir dia sedang merencanakan untuk mengakhiri masa pengangguran.

Baubab, bertahan tanpa daun. 

Merasakan jadi 'Cina' di negeri orang yang tak mengenal Indonesia.


Keluarga baruku di Tanzania, membuatku berjanji untuk datang lagi. Pasti!


Selama hidup di 'nowhere', Chicken Chips adalah 'everything'

Baubab, bertahan tanpa daun.

Masih juga tidak percaya salju abadi di khatulistiwa? 

Gaya Maroko.

Suku Masai, Rumah adalah hati. Di manapun mereka bisa tinggal.


Indonesia untuk Tanzania adalah selebar ini.

Welcome to Doha!
6 Jam yang membuat berpikir kenapa negaraku terlalu besar dan berantakan. Hanya dengan melihat Doha.

Bersyukur setiap hari mandi dengan air yang dikirim PDAM, bukan mencarinya lagi.


masih merasa spesial? jika yang lain juga punya? 
masih.
karena budaya kita tak ada tandingannya.



Pendakian, pole-pole means pelan.


sarapan terbaikku selain disuapin ibu adalah bertempat sarapan di sini. 


Merayakan keberhasilan pendakian dengan minuman dingin. Gratis dari Kilimanjaro express.


mereka semua, super!





mana pernah saya bayangkan bisa sampai sana?
terakhir kali mimpi saya naik Semeru.
Pulang Semeru justru Kilimanjaro.
masih tidak berani bermimpi?



Rasanya ingin membungkus kenanagan, bukan sekedar gambar, lukisan yang siapa tahu bisa rusak dan makna lenyap.

minuman dingin sebelum pulang tanah air.



Selamat tinggal benua hitam...


Foto-foto ini adalah dokumentasi terpilih dari perjalanan saya ke Afrika  beberapa waktu yang lalu. Terlalu banyak yang ingin diceritakan sebenarnya.

Sunday, 13 January 2013

“Semoga kau tetap ingat apa yang dibutuhkan jiwamu. Bukan kemakmuran, harga diri, dan kepemilikan, tetapi tanggung jawab orang dewasa untuk mencintai..”

-kutipan dari sebuah buku filsafat kuno...
 

Monday, 17 December 2012


"lalu apa gunanya melarutkan keping vitamin C setiap hari?
dalam pergumulan asap-asap puntung putih saya melihat sebuah lubang hitam yang semakin lebar menganga.
kehilangan terbesar adalah saat kita kehilangan makna.
dan kita tidak bisa menyangkal terhadap adiksi pada hal-hal absurd, jiwa kita terus mencari, makna.."

Monday, 8 October 2012

Laporan dari gunung Semeru di Blog WAPEALA


Sebenarnya saya lagi sibuk nulis juga sih, tapi naskah-naskah tugas kuliah dan buat cari duit. ehe
jadi saya nih baru aja pulang dari mendaki gunung Semeru, sebelum saya menerbitkan cerita perjalanan di blog sendiri, boleh juga teman-teman baca tulisan saya di blog WAPEALA. Rumah ke-2  saya.
karena saya bagian dari calon atlet maka saya memakai sudut pandang team.
tapi saya janji bakal bagi cerita lewat sudut pandang saya sendiri kok nanti :)

check this out!
http://wapeala.blogspot.com/2012/10/mahameru-butiran-pasir-keteguhan_8.html

Thursday, 19 July 2012

Gunung Slamet, Erupsi gagah berani.

erupsi gagah berani



Setelah melewati diklat selama 1 bulan akhirnya saya, dan 6 orang calon atlet Kilimanjaro lainnya diberangkatkan simulasi ekspedisi. Dari jalur Kaliwadas kami memulai pendakian, jalurnya yang sangat hutan dan jarang dilewati pendaki lain. Bahkan pada buku tamu di basecamp, tahun ini kamilah tim pendaki yang ke-7 mendaki melewati jalur Kaliwadas. Menurut beberapa narasumber ini dikarenakan jalur Kaliwadas adalah jalur ilegal, karena terdapat banyak percabangan yang sering membuat tersesat pendaki. Beruntunglah kami yang sudah terbiasa navigasi darat, dan akrab dngan peta dan kompas. Pendakian kali ini untuk saya agak digital, kami berteman akrab dengan GPS. he-he

  Di sepanjang perjalanan yang paling menyebalkan adalah pertemuan saya dengan daun djancuk, sangat djancuk karena begitu bersentuhan dengannya kulit terasa panas dan gatal. Jadilah kami sepanjang jalan mengumpat kata djancuk akibat tersengat daun tersebut. Namun sebenarnya, dibalik ini semua maksud kami adalah supaya perndakian kami tidak mati gaya, menyebut tanaman demikian murni kami hanya ingin bercanda. Perjalanan 5 hari dan 4 kali camp di hutan gunung Slamet adalah seru. Seru karena setiap malam kami dipeluk suhu 18 derajat celsius.
Gunung Slamet adalah gunung api aktif yang pertama saya daki, jika selama ini yang saya sering jumpai adalah medan pasar setan batuan menanjak, kali ini adalah medan pasir dan batuan labil. Sempat berkali-kali terjatuh namun akhirnya sampailah saya di puncak.
Terdapat kejadian alam yang langka kami jumpai, pada tanggal 17 juli kedatangan kami di puncak di sambut oleh erupsi gunung Slamet. Bergegas,  kami langsung mengabadikan momen tersebut, erupsi yang diikuti dengan hujan abu yang tipis yang seakan memberi tahu kami, keberadaannya. 


Gunung Slamet adalah gunung api yang tergolong masih aktif, masuk ke dalam tipe A dengan dapur yang tergolong rajin dan selalu beraroma. Terdapat kawah belerang di sana-sini yang menandakan  gunung ini  masih bergeliat, hadir dan mengalirkan cerita mistis dan magis. Adalah wajar jika kami sebagai pendaki memahami apa yang terjadi dan mencoba selalu menghargai nasihat-nasihat yang ada ketika berada di sana. Demi kebaikan bersama. Saya pun yakin cerita mistis dan mitos yang ada, adalah penjaga.


Sedikit kurang menyenangkan bagi kami karena ternyata perjalanan turun lebih lama dan tidak sesuai rencana. Naluri konservatif muncul dalam setiap langkah saya, jujur saya takut terjatuh. Karena tangan kanan terasa berat, panas dan kaku saya memutuskan jalan agak pelan. Dan ketika kami dalam perjalanan turun, gunung Slamet menggoda lagi, erupsinya seperti ingin mengantar kami pulang. Kali ini erupsi agak lebih pekat dan besar.
Gunung api selalu mempunyai keistimewaan sendiri, istimewanya alam menyindir saya. Bagi saya pada hari itulah pasir, batu menohok independensi. Terpaksa saya menggantungkan lengan di tangan Mas Irwan, Bang Jon dan Mas Ponco. 
2 jam menuruni puncak berkejaran dengan abu vulkanis akhirnya kami memutuskan camping. Perjalanan tidak mungkin dilanjutkan karena hari telah larut.

Keesokan harinya pendakian kami selesaikan dan finish di Guci. Sebelumnya kami sempat bingung karena terdapat banyak percabangan. Kami memastikan jalur dengan peta baru kemudian melanjutkan perjalanan. Bonus! Tim official yang baik hati memberi kami kesempatan untuk berendam di pemandian air panas dan menikmati padusan.
Di sela-sela bercerita saya mendapat informasi, sebagian pendaki gunung Slamet hampir selalu tidak tepat rencana. Entah karena tersesat, tidak menemukan jalur pendakian atau molor dari waktu yang ditentukan untuk pulang. Banyaknya percabangan sering mengecoh dan membingungkan. Saya sarankan, demi keselamatan anda yang suka mendaki, pertahankan selalu safety procedure dan jangan hanya modal nekat. Salam Lestari!